Gio_emilyouhots Mehr free porn

Schaue alle Cam Shows von gio_emilyouhot online auf Recorded Tube. Die beliebteste Webcam Seite im Internet. Suchen Sie nach Ihren XXX Webcam. gio_emilyouhot threesome ticketshow with a cute babe. I like this video I don't like this video. % (1 vote). Add to Favourites · Watch Later · Add to New Playlist. gio_emilyouhot 2. Von. tonypictures. Album. Fucking and Sucking. Nische. Fucking / Sucking (falsch?) Datum. 30 November (vor 3 Jahre, 7 monate). gio_emilyouhot y christie_monteiro 9 (blooper). Von. tonypictures. Album. Funny, Fake, Unusual and Impressive. Nische. Fun (falsch?) Datum. 5 Januar gio_emilyouhot HD CAM SHOW @ CHATURBATE more of gio_emilyouhot http://​gotlandsbilden.se

russisches Paar 69 Blowjob Russisches Paar 69 Blowjob Amateur. gotlandsbilden.se - gotlandsbilden.se-c-gio_emilyouhot ​ 1 year ago Txxx. 52 grandpa old man. Alter mannBlasenReife · gio_emilyouhot limonite his crotch. 9 months ago Hclips. gio_emilyouhot limonite his crotch. gio_emilyouhot threesome ticketshow with a cute babe. I like this video I don't like this video. % (1 vote). Add to Favourites · Watch Later · Add to New Playlist.

Page 25 Keterangan gambar 2. Traktus piramidalis Traktus piramidalis disebut juga sebagai traktus kortikospinalis, serabut traktus piramidalis muncul sebagai sel-sel betz yang terletak dilapisan kelima kortek serebri.

Sekitar sepertiga serabut ini berasal dari kortek motorik primer area 4 , sepertiga dari kortek motorik sekunder area 6 , dan sepertiga dari lobus parietalis area 3, area 1, dan area 2 Snell, Serabut traktus piramidalis akan meninggalkan kortek motorik menuju korona radiata substansia alba serebrum kearah ekstremitas posterior kapsula interna masuk ke diesefalon di teruskan ke mesencephalon, pons varolli sampai medulla oblongata.

Lintasan piramidal ini akan memberikan pengaruh berupa eksitasi terhadap serabut ekstrafusal yang berfungsi dalam gerak volunter.

Sehingga bila terjadi gangguan pada lintasan piramidal ini maka akan terjadi gangguan gerak volunter pada otot rangka bagian kontralateral Chusid, Talamus 2.

Traktus kortikopontis 3. Pedunkulus cerebral 4. Pons 5. Medulla oblongata 6. Traktus kortikospinalis lateral menyilang 7.

Lempeng akhir motorik 8. Traktus kortikospinalis anterior langsung 9. Dekusasio pyramidalis Pyramida Traktus kortikospinalis pyramidalis Traktus kortikonuklearis Traktus kortikomesensefalitis Kaput nukleus kaudatus Kapsula interna Nukleus lentikularis Kauda nukleus kaudatus Page 29 13 c.

Traktus ekstrapiramidalis Sistem ekstrapiramidalis tersusun atas corpus striatum, globus pallidus, thalamus, substantia nigra, formatio lentikularis, cerebellum dan cortex motorik.

Traktus ekstrapiramidalis merupakan suatu mekanisme yang tersusun dari jalur- jalur dari cortex motorik menuju Anterior Horn Cell AHC.

Fungsi utama dari sistem ekstrapiramidalis berhubungan dengan gerakan yang berkaitan, pengaturan sikap tubuh, dan integrasi otonom. Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau menghilangkan gerakan dibawah sadar dan menggantikannya dengan gerakan dibawah sadar dan menggantikannya dengan gerakan diluar sadar involuntary movement Chusid, Susunan ekstrapiramidalis terdiri dari corpus stratum, globus palidus, inti- inti talamik, nucleus subthalamicus, substansia grisea, formassio reticularis batang otak, serebellum dengan korteks motorik area 4, 6, dan 8.

Komponen tersebut dihubungkan antara satu dengan yang lain dengan masing-masing akson dari komponen tersebut sehingga terdapat lintasan yang melingkar yang disebut sirkuit Sidharta, Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau mehilangkan gerakan dibawah sadar voluntary dengan gerakan diluar sadar involuntary movement dan timbulnya spastisitas dianggap menunjukkan gangguan pada lintasan ekstrapiramidal Chusid, Traktus frontopontin 2.

Traktus kortikospinalis dengan serat ekstrapyramidalis 3. Thalamus 4. Kaput nukleus kaudatus 5. Nukleus tegmental 6. Nuklei ruber 7. Substansia nigra 8.

Traktus tegmentus sentralis 9. Oliva inferior Pyramid Traktus retikulospinalis Traktus tektospinalis Traktus kortikospinalis anterior Traktus kortikospinalis lateral Traktus vestibulospinalis Traktus rubrospinalis Nukleus lateral nervus vestibularis Formasio retikularis Dari cerebellum nukleus fastigialis Nuklei pontis Traktus oksipitomesensefalik Traktus parietotemporopontin Page 32 15 d.

Otak juga membutuhkan banyak oksigen. Menurut penelitian kebutuhan fital jaringan otak akan oksigen dicerminkan dengan melakukan percobaan dengan menggunakan kucing.

Para peneliti menemukan lesi permanen yang berat didalam kortek kucing setelah sirkulasi darah otaknya di hentikan selama 3 menit.

Pengaliran darah keotak dilakukan oleh dua pembuluh arteri utama yaitu oleh sepasang arteri karotis interna dan sepasang arteria vertebralis.

Keempat arteria ini terletak didalam ruang subarakhnoid dan cabang-cabangnya beranastomosis pada permukaan inferior otak untuk membentuk circulus willisi.

Arteri carotis interna, arteri basilaris, arteri cerebri anterior, arteri communicans anterior, arteri cerebri posterior dan arteri comminicans posterior dan arteria basilaris ikut membentuk sirkulus ini Snell, Vaskularisasi susunan saraf pusat sangat berkaitan dengan tingkat kegiatam metabolisme pada bagian tertentu dan ini berkaitan dengan banyak sedikitnya dendrit dan sinaps di daerah tersebut Sidharta, Menurut Chusid , pokok anastomose pembuluh darah arteri yang penting didalam jaringan otak adalah circulus willisi.

Darah mencapai circulus willisi interna dan arteri vertebralis. Sebagian anastomose terjadi diantara cabang-cabang arteriole di circulus willisi pada substantia alba subscortex.

Page 33 16 Arteria carotis interna berakhir pada arteri cerebri anterior dan arteri cerebri media. Di dekat akhir arteri carotis interna dari pembuluh arteri comunicans posterior yang bersatu kearah caudal dengan arteri cerebri posterior.

Arteri cerebri anterior saling berhubungan melalui arteri comunicans anterior. Arteri basilaris dibentuk dari persambungan antara arteri-arteri vertebralis.

Pemberian darah ke certex terutama melalui cabang-cabang kortikal dari arteri cerebri anterior, arteri cerebri media dan arteri cerebri posterior, yang mencapai cortex di dalam piamater.

Faktor yang mempengaruhi aliran darah di otak, diantaranya adalah 1 keadaan arteri, dapat menyempit karena tersumbat oleh thrombus dan embolus, 2 keadaan darah, dapat mempengaruhi aliran darah dan suplai oksigen, 3 keadaan jantung, bila ada kelainan dapat mengakibatkan iskemia di otak Lumbantobing, Page 34 17 Keterangan gambar 1.

Anterior communicating artery 2. Middle cerebral artery 3. Lenticulostriate artery 4. Posterior cofmmunicating artery 5. Basilar artery 6.

Pontine artery 7. Internal auditory artery 8. Posterior inferior cerebellar artery 9. Verteral artery Anterior spinal artery Anterior inferior cerebellar artery Superior cerebellar artery Anterior coroidal artery Internal carotid artery Anterior cerebral artery Gambar 2.

Stroke Stroke adalah cedera vaskuler akut pada otak. Cedera dapat disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan dan penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah.

Semua ini menyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai Feigin, Page 35 18 Stroke Non haemoragik atau iskemik, yaitu suatu gangguan fungsional otak akibat gangguan aliran darah ke otak karena adanya bekuan darah yang telah menyumbat aliran darah Yastoki, Pada stroke non haemoragik aliran darah ke sebagian jaringan otak berkurang atau berhenti.

Hal ini bias disebabkan oleh sumbatan thrombus, embolus atau kelainan jantung yang mengakibatkan curah jantung berkurang atau oleh tekanan perfusi yang menurun Lumbantobing, Sedangkan menurut Feigin, stroke haemoragik disebabkan oleh perdarahan kedalam jaringan otak disebut haemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum atau kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak disebut haemoragia subaraknoid.

Stadium recovery adalah suatu tahapan ataupun proses patologi stroke. Pada stadium ini terjadi reabsorpsi udema, sehingga proses desak ruang akut yang terjadi di dalam otak berangsur-angsur menurun, aktivitas refleks spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal Kuntono, Berat ringannya dampak serangan stroke sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan luas daerah otak yang rusak.

Bila aliran darah terputus hanya pada area yang kecil atau terjadi pada daerah otak yang rawan, efeknya ringan dan berlangsung sementara.

Sebaliknya bila aliran darah terputus pada area yang luas atau pada bagian otak yang vital akan terjadi kelumpuhan yang parah sampai pada kematian Vitahelth, Page 36 19 3.

Etiologi Berdasarkan etiologi Hinton membagi stroke menjadi dua : 1 Stroke hemoragik yaitu suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan pendarahan pada area tersebut.

Faktor resiko stroke menurut Feigin dibagi menjadi dua yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup dan faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti penuaan, kecenderungan genetik, dan suku bangsa.

Faktor resiko yang terpenting adalah : Page 37 20 a. Hipertensi Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus menambah beban pembuluh arteri perlahan-lahan.

Arteri mengalami proses pengerasan menjadi tebal dan kaku sehingga mengurangi elastisitasnya. Hal ini dapat pula merusak dinding arteri dan mendorong proses terbentuknya pengendapan plak pada arteri koroner.

Hal ini meningkatkan resistensi pada aliran darah yang pada gilirannya menambah naiknya tekanan darah. Semakin berat kondisi hipertensi, semakin besar pula faktor resiko yang ditimbulkan Soeharto, Penyakit jantung Emboli yang terbentuk dijantung akibat adanya kelainan pada arteri jantung trutama arteria coronaria dapat terlepas dan dapat mengalir ke otak sehingga dapat menyumbat arteri di otak dan dapat mencetuskan stroke ischemia Feigin, Diabetes mellitus Diabetes mellitus dapat menimbulkan perubahan pada system vaskuler pembuluh darah dan jantung serta memicu terjadinya aterosklerosis Feigin, Merokok Asap rokok yang mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat-zat seperti adrenalin dapat merangsang denyut jantung dan tekanan darah.

Kandungan carbonmonoksida dalam rokok memiliki kemampuan jauh lebih kuat daripada sel darah merah hemoglobin untuk menarik atau menyerap oksigen sehingga Page 38 21 kapasitas darah yang mengangkut oksigen ke jaringan lain terutama jantung menjadi berkurang.

Hal ini akan mempercepat terjadinya stroke ischemia bila seseorang sudah mempunyai penyakit jantung Soeharto, Makanan yang tidak sehat Jika seseorang mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang mereka gunakan dalam aktivitas sehari-hari, kelebihan kalori tersebut akan diubah menjadi lemak yang menumpuk di dalam tubuh Feigin, Patologi Telah disebutkan sebelumnya bahwa stroke haemoragik adalah perdarahan ke dalam jaringan otak.

Perdarahan dari sebuah arteri intrakranium biasanya disebabkan oleh aneurisma arteri yang melebar yang pecah atau karena suatu penyakit.

Stroke menyerang pada susunan sraf pusat maka lesi yang diakibatkan termasuk pada lesi upper motor neuron. Hemiplegi yang diakibatkan lesi pada kortek motor primer bersifat kontralateral, kerusakan yang menyeluruh namun belum meruntuhkan semua neuron kortek pyramidal sesisi, menimbulkan kelumpuhan pada belahan tubuh kontraleteral dari yang ringan sampai sedang.

Meskipun yang terkena sisi tubuh kanan atau kiri pada umumnya terdapat berbedaan antara lengan dan tungkai, perbedaan tersebut nampak jika kerusakan pada tingkat korteks namun jika kerusakan pada tingkat kapsula interna maka hemiplegi tidak ada perbedaan.

Kerusakan atau kelumpuhan yang dikarenakan lesi pada kapsula interna hampir selamanya disertai hipertonus yang khas hal ini dikarenakan pada kapsula interna dilewati serabut serabut ekstrapiramidal.

Tergantung pada arteri yang terkena maka lesi vaskular yang terjadi di kapsula interna dapat mengakibatkan kerusakan area disekitarnya seperti radiasio optika, nucleus kaudatus dan putamen sehingga hemiplegia akibat lesi kapsula interna memperihatkan kelumpuhan upper motor neuron yang disertai oleh rigiditas, atetosis, distonia tremor atau hemianopia.

Gambaran klinis utama yang dapat dikaitkan dengan pembuluh darah otak yang pecah adalah sebagai berikut : Page 40 23 1 Kerusakan pada vertebro basilaris sirkulasi posterior mengakibatkan terjadinya kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak, peningkatan reflek tendon, ataksia, tanda babinsky bilateral, disfagia, disartria, koma, gangguan daya ingat, gangguan penglihatan dan muka baal.

Lokasi yang paling sering terkena pada bifurkasio arteri karotis komunis menjadi arteri karotis interna dan eksterna.

Tanda tandanya adalah anggota gerak atas terasa lemah dan baal, bila hemisfer dominan maka dapat terjadi afasia ekspresif. Page 41 24 5.

Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung dari topis dan derajat beratnya lesi.

Akan tetapi tanda dan gejala yang dijumpai pada penderita pasca stroke haemoragik stadium akut secara umum meliputi 1 gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak, gangguan gerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi, 2 gangguan sensoris : gangguan perasaan, kesemutan, rasa tebal-tebal, 3 gangguan bicara : sulit berbahasa disfasia , tidak bisa bicara afasia motorik , tidak bisa memahami bicara orang afasia sensorik , 4 gangguan kognitif Soetedjo, , dalam Rujito, Komplikasi Komplikasi yang akan timbul apabila pasien stroke tidak mendapat penanganan yang baik.

Komplikasi yang dapat muncul antara lain Suyono, : a. Abnormal tonus Abnormal tonus secara postural mengakibatkan spastisitas.

Serta dapat menggangu gerak dan menghambat terjadinya keseimbangan. Sindrom bahu Sindrom bahu merupakan komplikasi dari stroke yang dialami sebagian pasien.

Pasien merasakan nyeri dan kaku pada bahu yang lesi akibat imobilisasi. Page 42 25 c. Deep vein trombosis Deep vein trombosis akibat tirah baring yang lama, memungkinkan trombus terbentuk di pembuluh darah balik pada bagian yang lesi.

Hal ini menyebabkan oedem pada tungkai bawah. Orthostatic hypotension Orthostatic hypotension terjadi akibat kelainan barometer pada batang otak.

Penurunan tekanan darah di otak mengakibatkan otak kekurangan darah. Kontraktur Kontraktur terjadi karena adanya pola sinergis dan spastisitas.

Apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan otot-otot mengecil dan memendek. Prognosis Apabila pasien dapat mengatasi serangan stroke recovery, prognosis untuk kehidupannya baik.

Dengan rehabilitasi yang aktif, banyak penderita dapat berjalan lagi dan mengurus dirinya. Prognosis buruk, bagi penderita yang disertai dengan aphasia sensorik Chusid, Menurut Chusid prognosis trombosis serebri ditentukan oleh lokasi dan luasnya infark, juga keadaan umum pasien.

Makin lambat penyembuhannya maka akan semakin buruk prognosisnya, pada emboli serebri prognosis juga ditentukan oleh adanya emboli dalam organ-organ lain, disamping itu penanganan yang tepat dan cepat serta kerjasama tim medis dengan penderita mempengaruhi Page 43 26 prognosis dari stroke.

Oleh karena itu, stroke yang ringan dengan penanganan yang tepat sedini mungkin dengan kerjasama yang baik antara tim medis dan penderita akan menjadikan prognosis yang baik, sedangkan pada kondisi sebaliknya prognosis akan menjadi buruk karena dapat menimbulkan kecacatan yang permanen bahkan juga kematian.

Diagnosis Banding Diagnossis banding antara stroke iskemik dan stroke hemoragik yaitu pada stroke iskemik ada nyeri kepala ringan, gangguan kesadaran ringan atau tidak ada, dan defisit neurologis atau kelumpuhan berat.

Sedangkan pada stroke hemoragik ada nyeri kepala yang berat, gangguan kesadaran sedang sampai berat, dan defisit neurologis ada yang ringan dan ada yang berat Junaidi, Tapi jika lebih spesifik lagi, diagnosa banding penyebab stroke non hemoragik, yaitu thrombosis dan emboli menurut Chusid yaitu onset yang relatif lambat menyokong diagnosa thrombosis.

Sedang endocarditis infeksiosa, fibrilasi atrium dan infark myocard menyokong diagnosa emboli. Ada beberapa penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang menyerupai penyakit stroke, misalnya trauma kepala, tumor intracranial massa, hematoma, edema , meningitis atau virus.

Page 44 27 B. Problematik Fisioterapi Problematik fisioterapi pada pasien stroke stadium recovery menimbulkan tingkat gangguan.

Impairment Impairment atau gangguan tingkat jaringan yaitu gangguan tonus otot secara postural, semakin tinggi tonus otot maka akan terjadi spastisitas ke arah fleksi atau ektensi yang mengakibatkan terganggunya gerak ke arah normal.

Sehingga terjadi gangguan kokontraksi dan koordinasi yang halus dan bertujuan pada kecepatan dan ketepatan gerak anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi.

Serta dapat mengakibatkan gangguan dalam reaksi tegak, mempertahankan keseimbangan atau protective reaction anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi saat melakukan gerakan 2.

Functional limitation Functional limitation yang timbul adalah terjadi penurunan kemampuan motorik fungsional. Penurunan kemampuan dalam melakukan aktifitas dari tidur terlentang seperti mampu melakukan gerakan tangan dan kaki secara aktif saat miring, terlentang duduk disamping bed seperti mampu melakukan gerakan menggangkat kepala namun saat menurunkan kaki butuh bantuan orang lain agar mampu duduk disamping bed, keseimbangan duduk seperti kurang mampu Page 45 28 mempertahankan keseimbangan duduk, dari duduk ke berdiri seperti masih membutuhkan bantuan orang lain, berjalan seperti masih membutuhkan bantuan dari orang lain, fungsi anggota gerak atas seperti gerakan mempertahankan posisi lengan ke segala arah dan pergerakkan tangan yang terampil seperti mengambil benda dan memindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Disability Yang termasuk dalam disability adalah terjadi ketidakmampuan melakukan aktifitas sosial dan berinteraksi dengan lingkungan.

Seperti gangguan dalam melakukan aktivitas bekerja karena gangguan psikis dan fisik. Teknologi Intervensi Fisioterapi Pemilihan intervensi fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.

Dimana dalam metode pendekatan fisioterapi itu harus banyak variasinya agar pasien tidak bosan dalam melakukan rehabilitasi.

Ada yang berpendapat bahwa pendekatan fisioterapi pada pasien stroke itu tidak menggunakan satu metode saja melainkan dengan penggabungan yang disusun sedemikian rupa sesuia dengan kondisi dan kemampuan pasien agar memperoleh hasil yang maksimal Suyono, Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi latihan, yang terdiri dari breathing eercise, latihan dengan mekanisme reflek postur, latihan weight bearing, latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan fungsional.

Page 46 29 1. Breathing Exercise Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditujukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Tirah baring yang cukup lama dan toleransi aktivitas yang menurun mengakibatkan penurunan metabolisme secara umum. Breathing exercise dilakukan sebelum dan sesudah latihan diberikan kepada pasien.

Metode yang dipilih adalah deep breathing exercise. Deep breathing exercise adalah bagian dari brething exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yang panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi dengan tujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan Levenson, Latihan dengan mekanisme reflek postur Gangguan tonus otot spastisitas secara postural pada pasien stroke, dapat mengakibatkan gangguan gerak.

Melalui latihan dengan mekanisme reflek postur dengan cara mengontrol spastisitas secara postural mendekati status normal, maka Page 47 30 seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrol spastisitas otot secara postural Rahayu, Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuan gerak normal untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yang abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan Rahayu, Dalam upaya melakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan Key Point of Control Suyono, Bentuk latihannya antara lain : a Mobilisasi trunk Menurut Davies salah satu latihan melalui mekanisme reflek postural adalah mobilisasi trunk seperti gerakan fleksi, ektensi, dan rotasi trunk.

Latihan mobilisasi trunk merupakan komponen keseimbangan serta akan menghambat pola spastisitas melalui gerakan rileksasi dari trunk..

Salah satunya adalah latihan rotasi trunk, gerak rotasi merupakan komponen gerak yang sangat penting untuk menunjang fungsi tubuh Suyono, Latihan ini bertujuan untuk menurunkan spastisitas serta dapat melakukan gerakan yang selektif hingga menuju ke aktivitas fungsional seperti latihan menghambat ektensor tungkai khususnya pada kaki untuk mempersiapkan tungkai saat berjalan agar tidak terjadi droop foot Davies, Page 48 31 3.

Latihan weight bearing Latihan weight bearing untuk mengontrol spastisitas pada ekstremitas dalam keadaan spastis. Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali fungsi pada persendian untuk menyangga.

Latihan ini berupa mengenalkan kembali bentuk permukaan benda yang bervariasi kepada sisi yang lumpuh agar kembali terbentuk mekanisme feed back gerakan yang utuh Rahayu, Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk dan berdiri.

Latihan weight bearing saat duduk bisa melakukan gerak menumpu berat badan ke belakang, depan dan samping kanan serta kiri. Sedangkan latihan weight bearing saat berdiri bisa melakukan gerakan menumpu berat badan kedepan dan belakang.

Latihan weight bearing saat berdiri bertujuan untuk mempersiapkan latihan berjalan agar tidak ada keraguan dalam melangkah karena adanya spastisitas Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recovery sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisi terlentang, duduk dan berdiri.

Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal Pudjiastuti, Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat Page 49 32 dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya repetisi.

Latihan keseimbangan dapat dilakukan pada posisi duduk dan berdiri. Latihan ini merupakan latihan untuk meningkatkan reaksi keseimbangan equilibrium berbagai keadaan serta merupakan komponen dasar dalam kemampuan gerak untuk menjaga diri, bekerja dan melakukan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi merupakan latihan yang saling berkaitan yang dapat menimbulkan gerak volunter Rahayu, Latihan fungsional Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery terjadi gerak anggota tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi dalam gerak untuk aktivitas fungsional dan membentuk pola abnormal Rahayu, Latihan fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh kepada orang lain.

Latihan fungsional berupa latihan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jika latihan fungsional dilakukan berulang — ulang akan menjadikan pengalaman yang relatif permanen atau menetap dan akhirnya akan menjadi sebuah pengalaman gerak yang otomatis Suyono, Latihan fungsional seperti latihan briging, latihan duduk ke berdiri dan latihan jalan.

Latihan briging untuk mobilisasi pelvis agar dapat stabil dan menimbulkan gerakan ritmis saat berjalan Johnstone, Latihan duduk ke Page 50 33 berdiri merupakan latihan untuk memperkuat otot-otot tungkai dan mempersiapkan latihan berdiri Davies, Latihan jalan merupakan komponen yang sangat penting agar pasien dapat melakukan aktivitas berjalan dengan pola yang benar Davies, Rencana penelitian adalah suatu konsep pelaksanaan program sesuai dengan perencanaan, yang sesuai teknis sesuai prosedur-prosedur pada masing-masing metodelogi dan dalam penelitian tersebut sesuai prinsip- prinsip pencatatan dalam proses Fisioterapi.

Kasus Terpilih Dalam hal ini penulis memilih kasus stroke hemorage stadium recovery pada Ny. Penulis memilih kasus ini dikarenakan pasien dianggap mampu untuk dijadikan objek penelitian mulai dari hari kedua puluh empat serangan stroke hemorage sampai pasien pulih.

Sehingga menurut penulis, hasil penelitian dari terapi latihan pada stroke hemorage dapat menggambarkan perubahan kekuatan otot menjadi bertambah.

Instrument Penelitian 1 Variabel Dependent Dalam penelitian ini variabel dependentnya adalah kelemahan anggota gerak kanan, penurunan kekuatan otot anggota gerak kanan, potensial kontraktur, dekubitus dan penurunan kemampuan fungsional.

Page 52 35 a. Definisi konseptual 1. Spastisitas adalah kekakuan yang disebabkan oleh meningkatnya tonus otot.

Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditunjukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Latihan koordinasi dan keseimbangan adalah latihan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien dan keseimbangan.

Latihan fungsional adalah latihan yang dilakukan untuk meningkatkan aktifitas fungsional dasar yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Latihan peningkatan kekuatan otot adalah latihan gerak secara aktif yang dilakukan oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya.

Definisi operasional 1. Pemeriksaan tonus otot Pemeriksaan tonus otot dilakukan dengan gerakan pasif yang semakin cepat pada anggota gerak yang lesi, penilaian menggunakan skala Asworth yang dimodifikasi.

TABEL 3. Pemeriksaan cairan mukus Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penumpukan cairan mukus.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara mendengarkan paru-paru menggunakan stetoskop. Pemeriksaan Koordinasi Non Equilibrium Pemeriksaan koordinasi dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien saat dilakukan tes koordinasi selain factor kemampuan melainkan gerakan, factor kecepatan juga harus dipertimbangkan.

Tidak mampu melakukan aktifitas 2. Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapi tidak lengkap 3. Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapi koordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat, kaku dan tidak setabil 4.

Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitas dengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikit disbanding normal 5.

Kemampuan normal 4. Pemeriksaan Fungsi Motorik Pemeriksaan motorik dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Pemeriksaan ini dilakukan pada gerak terlentang ke tidur miring pada sisi Page 55 38 sehat, terlentang ke duduk disamping bed, keseimbangan duduk, duduk ke berdiri.

Jangan biarkan pasien untuk menahan. Jangan biarkan lutut dan telapak kaki untuk bergerak. Sangga lengan yang lemah bila perlu. Tangan harus menyentuh lantai paling tidak 10 cm didepan telapak kaki.

Raih dengan masing-masing lengan. Sangga lengan yang lemah jika perlu. Pasien harus meraih kesamping, bukan ke depan. Raih kedua sisi kanan kiri. Pemeriksaan kekuatan otot Pemeriksaan kekuatan otot ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnose fisioterapi dan jenis latihan yang diberikan, dan dapat menentukan prognosis pasien serta dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

Maka pemeriksaan kekuatan otot dianggap penting. Parameter yang digunakan untuk mengetahui nilai kekuatan otot adalah pemeriksaan kekuatan otot secara manual atau manual muscle testing MMT dengan ketentuan sebagai berikut : TABEL 3.

Pemeriksaan pola sinergis Pemeriksaan pola sinergis dengan inspeksi pada saat pasien menguap, bersin atau batuk. Tes reflek Tes reflek merupakan informasi penting yang sangat menentukan maka penilaiannya harus tepat dan secara banding antara kanan dan kiri.

Disamping itu posisi anggota gerak harus sepadan pada waktu perangsangan dilakukan. Tes reflek meliputi reflek patologis dan reflek fisiologis.

Untuk reflek patologis bertujuan untuk mengetahui apakah reflek tersebut yang sudah hilang muncul lagi. Adapun pembagian refleknya antara lain : 1.

Reflek Patologis meliputi : Babinsky, Chaddock. Reflek Fisiologis atau reflek tendon meliputi : Biceps, Patella, Achiles, Adapun cara pemeriksaanya antara lain : teknik pengetukan pada reflek tendon boleh dipegang secara keras.

Gagang pada reflek dipegang dengan ibu jari telunjuk sedemikian rupa sehingga palu dapat diayunkan bebas.

Dalam hal itu, gerakan pengetukan berpangkal pada sendi pergelangan tangan dan bukanya lengan yang mengangkat palu reflek.

Reflek tendon yang dibangkitkan dalam pemeriksaan antara lain : 1 Tendon biceps caranya yaitu : a. Page 62 46 2 Variabel Independent Variabel independent adalah terapi latihan.

Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data secara umum dibagi menjadi dua yaitu data literal dan data observasional.

Data literal atau data historis adalah data yang diperoleh dengan melakukan pencatatan terhadap kejadian atau fenomena yang telah berlalu. Dalam dunia kesehatan data ini dapat diperoleh dengan cara anamnesis maupun mempelajari catatan yang ada sebagai data sekunder.

Data observasional adalah data yang diperoleh dengan melakukan observasional langsung tehadap fenomena, pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan langsung sebagai data primer.

Page 63 47 1. Data primer a Anamnesis Suatu metode atau cara pengumpulan data dengan Tanya jawab atau interview antara terapis dengan sumber data.

Anamnesis yang dilakukan secara langsung kepada pasien disebut autoanamnesis sedangkan anamnesis yang dilakukan pada anggota keluarga pasien yang mengetahui secara pasti tentang kondisi pasien disebut heteroanamnesis.

Anamnesis ini berisi tentang identits penderita nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, hobi serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan penyakit penderita seperti keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit pribadi, riwayat keluarga, anamnesis system yang meliputi kepala dan leher, system respirasi, system cardiovaskuler, system gastrointestinalis, system urogenitalis, system muskuloskeletal dan system nervorum.

Metode ini untuk mengetahui keadaan fisik dari pasien c Evaluasi Suatu metode atau cara pengumpulan data dengan membandingkan hasil terapi yang dilakukan sebelum, saat dan setelah terapi, yang berfungsi 1 Untuk menilai seberapa jauh tujuan terapi tercapai, 2 Menentukan terapi lebih lanjut dan 3 Untuk merujuk memodifikasi Mardiman, Cara Analisis Data Data penelitian diperoleh dari data primer dan data sekunder.

Data ini dikumpulkan dengan cara pengukuran langsung terhadap pasien, yang Page 65 49 ditunjang dengan diagnosa dokter dan assesment dari fisioterapi.

Setelah penulis mengumpulkan data yang ada dari hasil evaluasi T1 sampai T6 untuk langkah berikutnya dengan analisa data tersebut dengan permasalahan yang ada untuk menganalisa data meliputi kegiatan sebagai berikut: a Mengumpulkan sumber data yang menghasilkan data-data, sehingga dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kemajuan dalam proses terapi.

Sehingga dengan menganalisa data, terapis dapat menentukan tindakan terapi atau memprogram terapi berikutnya untuk mencapai tujuan terapi yang akan dicapai.

Dan diperoleh hasil akhir dari tindakan terapi yang mengalami kemajuan dari sebelum terapi. Proses Pemecahan Masalah Menurut Soetiyem dalam melakukan Assesment kita juga harus memprioritaskan, apakah ada masalah kapasitas fisik dan kemampuan fungsional yang mempunyai Ending pada lingkungan formal Fisioterapi yang berhubungan dengan prognosis.

Melalui Assesment yang baik maka akan menjadi jelas tahapan-tahapan yang akan dilakukan dan dengan Assesment kita juga dapat mengetahui perkembangan pada pasien Soetiyem, Dalam bab ini akan dibahas tentang proses pemecahan masalah yang dihadapi oleh penderita Stroke Hemorage dextra.

Pemecahan masalah pada dasarnya yaitu proses fisioterapi yang didalamnya terdapat pengkajian, menentukan diagnosa atau problematik fisioterapi, tujuan pemberian fisioterapi, pelaksanaan fisioterapi, evaluasi dan dokumentasi.

Pengkajian Pengkajian data merupakan komponen dalam proses fisioterapi, termasuk pada pasien Stroke Hemorage agar dapat memperoleh hasil maksimal dalam mengidentifikasi masalah pasien yang akan ditangani dengan pemecahan fisioterapi.

Anamnesis dibedakan atas anamnesis umum dan anamnesis khusus. Anamnesis umum meliputi data-data pribadi pasien, hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini yaitu, nama : Ny.

Sedangkan anamnesis khusus meliputi: 1 Keluhan Utama Ditanyakan kepada pasien atau keluarganya apa saja yang dirasakan pasien tentang kondisi fisik maupun fungsionalnya atau gejala yang mendorong pasien untuk ke Rumah Sakit atau klinik fisioterapi.

Dalam hal ini keluhan utama pasien adalah kelemahan anggota gerak badan sebelah kanan dan pada anggota sebelah kanan pasien merasakan keju, kemeng dan geringgingan.

Data riwayat penyakit sekarang adalah pada tanggal 27 Desember Page 68 52 tepatnya pukul Lalu pihak keluarga segera membawa pasien ke RS.

Setelah 5 hari di ruang ICU pasien dipindahkan kebangsal Mutazam sampai saat ini. Biasanya pada pasien dengan riwayat Hipertensi sangat beresiko untuk terkena serangan, Stroke apalagi disertai mengidap Diabetes Mellitus Priguna Sidharta, Dalam hal ini pasien pernah menderita Hipertensi, juga disertai penyakit Diabetes Mellitus.

Pasien ini adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 4 orang anak. Dan kesehariannya pasien mempunyai kegiatan bertani untuk mengisi masa tuanya.

Hasil yang didapatkan dari kasus ini tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit seperti pasien. Page 69 53 6 Anamnesis Sistem Anamnesis sistem meliputi a kepala dan leher : pasien mengeluh pusing, b system kardiovaskuler : pasien tidak meraskan nyeri dada dan jantung berdebar- debar.

Hanya saja pasien sering keluar keringat dingin saat dilakukan latihan, c respirasi : pasien tidak sesak nafas dan batuk-batuk, d gastrointestinalis : pasien tidak merasakan mual dan muntah, pasien mengeluh tidak bisa buang air besar BAB ; e urogenitalis : pasien belum bisa mengontrol buang air kecil dan masih terpasang kateter; f muskuloskeletal : dikeluhkan adanya rasa berat untuk menggerakkan lengan dan tungkai kanannya; g nervorum : pasien merasakan rasa tebal-tebal dan kesemutan khususnya di pagi hari.

Inspeksi terdiri dari dua macam, yaitu inspeksi Statis dan Page 70 54 inspeksi Dinamis. Dari pemeriksaan inspeksi Statis diperoleh informasi : tampak pasien dalam keadaan terbaring di tempat tidur dengan kondisi umum belum stabil, terpasang infus pada pergelangan tangan kiri,masih terpasang kateter, tidak ada decubitus dan pola sinergis.

Inspeksi Dinamis adalah inspeksi yang dilakukan dimana pasien dalm keadaan bergerak. Dari pemeriksaan inspeksi Dinamis diperoleh informasi : saat tidur miring ke sisi sehat maupun ke sisi lesi masih memerlukan bantuan, untuk saat ini terapi masih dilakukan di tempat tidur dan belum boleh diposisikan hafelaying.

Dari hasil palpasi didapatkan informasi : temperatur tubuh sisi kanan sama dengan sisi tubuh kiri, tidak ada nyeri tekan pada ekstrimitas tubuh sisi kanan,tidak ada spasme otot pada ekstrimitas sisi tubuh kanan dan tidak ada gangguan sensabilitas.

Untuk hasil pemeriksaan Auskultasi didapatkan bunyi paru sonor normal. Page 71 55 e Pemeriksaan Gerak Fungsi Dasar a. Pemeriksaan Gerak Pasif Gerak pasif adalah pemeriksaan gerak yang dilakukan oleh terapis pada penderita, sementara penderita dalam keadaan pasif, jadi yang menggerakan adalah terapis, pasien hanya diam saja.

Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah : Pada kasus ini gerak pasif yang dilakukan terapis pada sendi anggota gerak atas dan anggota gerak bawah pasien sebelah kanan, dapat dilakukan dengan LGS penuh tanpa adanya rasa nyeri.

Pemeriksaan Gerak Aktif Gerak aktif adalah gerakan yang dilakukan oleh pasien sendiri dan diberi aba-aba oleh terapis. Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada otot persendian dan gangguan kapasitas fisik.

Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah : Pada kasus ini gerak aktif yang dilakukan terapis pada sendi anggota gerak atas dan anggota gerak bawah pasien, dapat dilakukan dengan LGS belum bisa penuh tanpa adanya rasa nyeri dan koordinasi kurang baik.

Pemeriksaan Gerak Aktif Melawan Tahanan Gerak aktif melawan tahanan adalah suatu gerakan yang dilakukan pasien sendiri secara aktif sementara terapis memberikan tahanan yang berlawanan arah dari gerakan yang dilakukan oleh pasien.

Tujuan dilakukan pemeriksaan ini adalah provokasi ada tidaknya nyeri dan kekuatan otot. Luxury Townhomes are coming soon to downtown Redmond!

Conveniently located in downtown Redmond with a Walk Score of 85! The Ichijo Difference. Our Communities. Ichijo Technology. Built Green. Reed's Crossing - Hillsboro, OR.

Gio_emilyouhots Video

Nadine sage. Prostitutas.com Amateure. Japanisch Ehefrau. Webcam Masturbation. Korea Schulmädchen Japanisch Asiatisch. Sophia sanchez Amateure Webcam Pornostar. Webcam Chaturbate Amateure. Amateure Chaturbate Webcam. Anime that has sex videos Pornostars Kategorien. Willkommen backmy Xmas Live Webcam zeigen xcamscom. Live Sex. Kissen Fahrt. Morritas videos Blasen Brünette Pärchen Amateure.

Gio_emilyouhots - New Albums for: Mothandrust charlotte threesome

Faustfick Bisexuell Zusammenstellung. Hot Live Sex Zeigt. Webcam Chaturbate Amateure. Masturbation Amateure Webcam Babe Blond. Letzte Hinzugefügt Die meisten beliebt. Schönheit Japanisch Asiatisch. Functional limitation Functional limitation yang timbul adalah terjadi penurunan kemampuan motorik fungsional. Untuk hasil pemeriksaan Auskultasi didapatkan bunyi paru sonor normal. Redtubs artery 6. Menurut Chusid prognosis trombosis serebri ditentukan oleh lokasi dan luasnya infark, juga keadaan umum pasien. Jangka Pendek 1 Meningkatkan Gf on webcam koordinasi dan keseimbangan Gio_emilyouhots Meningatkan kekuatan otot 3 Mengontrol pola sinergis dan mengontrol spastisitas bila sudah Homemade black xxx spastisitas 4 Meningkatkan Sex club membership motorik fungsional seperti terlentang ke duduk disamping bed, duduk ke berdiri, berjalan dan pergerakan Busty asian girls nude yang lesi.

Gio_emilyouhots - Böse Live Sex Netzwerk

Schönheit Japanisch Asiatisch. Beliebt Letzte aktualisierungen Länger. Arabisch Hardcore Doggy style Niedlich.

Gio_emilyouhots Video

Spielzeug Brünette Masturbation Webcam. Alle kategorien Heterosexuelle Homosexuell Sisisinz Pornostars. Korea Softcore Asiatisch Babe. Ivy winters Pornostar. Frei Live Chat video Chat zu Erwachsene. Homemade pegging MILF. Bisexuell Party Gruppe. more of gio_emilyouhot gotlandsbilden.se you found more infos of gio_emilyouhot on this pages: gotlandsbilden.se Videos. Schau' Gio_emilyouhot Pornos gratis, hier auf gotlandsbilden.se Entdecke die immer wachsende Sammlung von hoch qualitativen Am relevantesten XXX Filme und. Mit Standort twittern. Du kannst deine Tweets vom Web aus und über Drittapplikationen mit einem Standort versehen, wie z.B. deiner Stadt oder deinem. Enjoy free webcams broadcasted live from amateurs around the world! - Join ​% Free. gio_emilyouhots threesome Private. gio_emilyouhots threesome. 0%. 6 days ago. Nataliexxxfabio got NEW GIRL sucking cock in threesome. Dicke Brasilien Amateure Bummsbus Magersüchtig. Masturbation Amateure Webcam Dude tube online Blond. Hardcore Amateure. Korea Realität. Kay parker Pornostar Hardcore.

Breathing exercise dilakukan sebelum dan sesudah latihan diberikan kepada pasien. Metode yang dipilih adalah deep breathing exercise.

Deep breathing exercise adalah bagian dari brething exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yang panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi dengan tujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan Levenson, Latihan dengan mekanisme reflek postur Gangguan tonus otot spastisitas secara postural pada pasien stroke, dapat mengakibatkan gangguan gerak.

Melalui latihan dengan mekanisme reflek postur dengan cara mengontrol spastisitas secara postural mendekati status normal, maka Page 47 30 seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrol spastisitas otot secara postural Rahayu, Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuan gerak normal untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yang abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan Rahayu, Dalam upaya melakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan Key Point of Control Suyono, Bentuk latihannya antara lain : a Mobilisasi trunk Menurut Davies salah satu latihan melalui mekanisme reflek postural adalah mobilisasi trunk seperti gerakan fleksi, ektensi, dan rotasi trunk.

Latihan mobilisasi trunk merupakan komponen keseimbangan serta akan menghambat pola spastisitas melalui gerakan rileksasi dari trunk..

Salah satunya adalah latihan rotasi trunk, gerak rotasi merupakan komponen gerak yang sangat penting untuk menunjang fungsi tubuh Suyono, Latihan ini bertujuan untuk menurunkan spastisitas serta dapat melakukan gerakan yang selektif hingga menuju ke aktivitas fungsional seperti latihan menghambat ektensor tungkai khususnya pada kaki untuk mempersiapkan tungkai saat berjalan agar tidak terjadi droop foot Davies, Page 48 31 3.

Latihan weight bearing Latihan weight bearing untuk mengontrol spastisitas pada ekstremitas dalam keadaan spastis. Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali fungsi pada persendian untuk menyangga.

Latihan ini berupa mengenalkan kembali bentuk permukaan benda yang bervariasi kepada sisi yang lumpuh agar kembali terbentuk mekanisme feed back gerakan yang utuh Rahayu, Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk dan berdiri.

Latihan weight bearing saat duduk bisa melakukan gerak menumpu berat badan ke belakang, depan dan samping kanan serta kiri. Sedangkan latihan weight bearing saat berdiri bisa melakukan gerakan menumpu berat badan kedepan dan belakang.

Latihan weight bearing saat berdiri bertujuan untuk mempersiapkan latihan berjalan agar tidak ada keraguan dalam melangkah karena adanya spastisitas Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recovery sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisi terlentang, duduk dan berdiri.

Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal Pudjiastuti, Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat Page 49 32 dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya repetisi.

Latihan keseimbangan dapat dilakukan pada posisi duduk dan berdiri. Latihan ini merupakan latihan untuk meningkatkan reaksi keseimbangan equilibrium berbagai keadaan serta merupakan komponen dasar dalam kemampuan gerak untuk menjaga diri, bekerja dan melakukan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi merupakan latihan yang saling berkaitan yang dapat menimbulkan gerak volunter Rahayu, Latihan fungsional Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery terjadi gerak anggota tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi dalam gerak untuk aktivitas fungsional dan membentuk pola abnormal Rahayu, Latihan fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh kepada orang lain.

Latihan fungsional berupa latihan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jika latihan fungsional dilakukan berulang — ulang akan menjadikan pengalaman yang relatif permanen atau menetap dan akhirnya akan menjadi sebuah pengalaman gerak yang otomatis Suyono, Latihan fungsional seperti latihan briging, latihan duduk ke berdiri dan latihan jalan.

Latihan briging untuk mobilisasi pelvis agar dapat stabil dan menimbulkan gerakan ritmis saat berjalan Johnstone, Latihan duduk ke Page 50 33 berdiri merupakan latihan untuk memperkuat otot-otot tungkai dan mempersiapkan latihan berdiri Davies, Latihan jalan merupakan komponen yang sangat penting agar pasien dapat melakukan aktivitas berjalan dengan pola yang benar Davies, Rencana penelitian adalah suatu konsep pelaksanaan program sesuai dengan perencanaan, yang sesuai teknis sesuai prosedur-prosedur pada masing-masing metodelogi dan dalam penelitian tersebut sesuai prinsip- prinsip pencatatan dalam proses Fisioterapi.

Kasus Terpilih Dalam hal ini penulis memilih kasus stroke hemorage stadium recovery pada Ny. Penulis memilih kasus ini dikarenakan pasien dianggap mampu untuk dijadikan objek penelitian mulai dari hari kedua puluh empat serangan stroke hemorage sampai pasien pulih.

Sehingga menurut penulis, hasil penelitian dari terapi latihan pada stroke hemorage dapat menggambarkan perubahan kekuatan otot menjadi bertambah.

Instrument Penelitian 1 Variabel Dependent Dalam penelitian ini variabel dependentnya adalah kelemahan anggota gerak kanan, penurunan kekuatan otot anggota gerak kanan, potensial kontraktur, dekubitus dan penurunan kemampuan fungsional.

Page 52 35 a. Definisi konseptual 1. Spastisitas adalah kekakuan yang disebabkan oleh meningkatnya tonus otot.

Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditunjukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Latihan koordinasi dan keseimbangan adalah latihan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien dan keseimbangan.

Latihan fungsional adalah latihan yang dilakukan untuk meningkatkan aktifitas fungsional dasar yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Latihan peningkatan kekuatan otot adalah latihan gerak secara aktif yang dilakukan oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya.

Definisi operasional 1. Pemeriksaan tonus otot Pemeriksaan tonus otot dilakukan dengan gerakan pasif yang semakin cepat pada anggota gerak yang lesi, penilaian menggunakan skala Asworth yang dimodifikasi.

TABEL 3. Pemeriksaan cairan mukus Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penumpukan cairan mukus.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara mendengarkan paru-paru menggunakan stetoskop. Pemeriksaan Koordinasi Non Equilibrium Pemeriksaan koordinasi dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien saat dilakukan tes koordinasi selain factor kemampuan melainkan gerakan, factor kecepatan juga harus dipertimbangkan.

Tidak mampu melakukan aktifitas 2. Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapi tidak lengkap 3. Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapi koordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat, kaku dan tidak setabil 4.

Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitas dengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikit disbanding normal 5. Kemampuan normal 4.

Pemeriksaan Fungsi Motorik Pemeriksaan motorik dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Pemeriksaan ini dilakukan pada gerak terlentang ke tidur miring pada sisi Page 55 38 sehat, terlentang ke duduk disamping bed, keseimbangan duduk, duduk ke berdiri.

Jangan biarkan pasien untuk menahan. Jangan biarkan lutut dan telapak kaki untuk bergerak. Sangga lengan yang lemah bila perlu.

Tangan harus menyentuh lantai paling tidak 10 cm didepan telapak kaki. Raih dengan masing-masing lengan. Sangga lengan yang lemah jika perlu.

Pasien harus meraih kesamping, bukan ke depan. Raih kedua sisi kanan kiri. Pemeriksaan kekuatan otot Pemeriksaan kekuatan otot ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnose fisioterapi dan jenis latihan yang diberikan, dan dapat menentukan prognosis pasien serta dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

Maka pemeriksaan kekuatan otot dianggap penting. Parameter yang digunakan untuk mengetahui nilai kekuatan otot adalah pemeriksaan kekuatan otot secara manual atau manual muscle testing MMT dengan ketentuan sebagai berikut : TABEL 3.

Pemeriksaan pola sinergis Pemeriksaan pola sinergis dengan inspeksi pada saat pasien menguap, bersin atau batuk.

Tes reflek Tes reflek merupakan informasi penting yang sangat menentukan maka penilaiannya harus tepat dan secara banding antara kanan dan kiri.

Disamping itu posisi anggota gerak harus sepadan pada waktu perangsangan dilakukan. Tes reflek meliputi reflek patologis dan reflek fisiologis.

Untuk reflek patologis bertujuan untuk mengetahui apakah reflek tersebut yang sudah hilang muncul lagi. Adapun pembagian refleknya antara lain : 1.

Reflek Patologis meliputi : Babinsky, Chaddock. Reflek Fisiologis atau reflek tendon meliputi : Biceps, Patella, Achiles, Adapun cara pemeriksaanya antara lain : teknik pengetukan pada reflek tendon boleh dipegang secara keras.

Gagang pada reflek dipegang dengan ibu jari telunjuk sedemikian rupa sehingga palu dapat diayunkan bebas.

Dalam hal itu, gerakan pengetukan berpangkal pada sendi pergelangan tangan dan bukanya lengan yang mengangkat palu reflek.

Reflek tendon yang dibangkitkan dalam pemeriksaan antara lain : 1 Tendon biceps caranya yaitu : a. Page 62 46 2 Variabel Independent Variabel independent adalah terapi latihan.

Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data secara umum dibagi menjadi dua yaitu data literal dan data observasional.

Data literal atau data historis adalah data yang diperoleh dengan melakukan pencatatan terhadap kejadian atau fenomena yang telah berlalu.

Dalam dunia kesehatan data ini dapat diperoleh dengan cara anamnesis maupun mempelajari catatan yang ada sebagai data sekunder.

Data observasional adalah data yang diperoleh dengan melakukan observasional langsung tehadap fenomena, pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan langsung sebagai data primer.

Page 63 47 1. Data primer a Anamnesis Suatu metode atau cara pengumpulan data dengan Tanya jawab atau interview antara terapis dengan sumber data.

Anamnesis yang dilakukan secara langsung kepada pasien disebut autoanamnesis sedangkan anamnesis yang dilakukan pada anggota keluarga pasien yang mengetahui secara pasti tentang kondisi pasien disebut heteroanamnesis.

Anamnesis ini berisi tentang identits penderita nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, hobi serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan penyakit penderita seperti keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit pribadi, riwayat keluarga, anamnesis system yang meliputi kepala dan leher, system respirasi, system cardiovaskuler, system gastrointestinalis, system urogenitalis, system muskuloskeletal dan system nervorum.

Metode ini untuk mengetahui keadaan fisik dari pasien c Evaluasi Suatu metode atau cara pengumpulan data dengan membandingkan hasil terapi yang dilakukan sebelum, saat dan setelah terapi, yang berfungsi 1 Untuk menilai seberapa jauh tujuan terapi tercapai, 2 Menentukan terapi lebih lanjut dan 3 Untuk merujuk memodifikasi Mardiman, Cara Analisis Data Data penelitian diperoleh dari data primer dan data sekunder.

Data ini dikumpulkan dengan cara pengukuran langsung terhadap pasien, yang Page 65 49 ditunjang dengan diagnosa dokter dan assesment dari fisioterapi.

Setelah penulis mengumpulkan data yang ada dari hasil evaluasi T1 sampai T6 untuk langkah berikutnya dengan analisa data tersebut dengan permasalahan yang ada untuk menganalisa data meliputi kegiatan sebagai berikut: a Mengumpulkan sumber data yang menghasilkan data-data, sehingga dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kemajuan dalam proses terapi.

Sehingga dengan menganalisa data, terapis dapat menentukan tindakan terapi atau memprogram terapi berikutnya untuk mencapai tujuan terapi yang akan dicapai.

Dan diperoleh hasil akhir dari tindakan terapi yang mengalami kemajuan dari sebelum terapi. Proses Pemecahan Masalah Menurut Soetiyem dalam melakukan Assesment kita juga harus memprioritaskan, apakah ada masalah kapasitas fisik dan kemampuan fungsional yang mempunyai Ending pada lingkungan formal Fisioterapi yang berhubungan dengan prognosis.

Melalui Assesment yang baik maka akan menjadi jelas tahapan-tahapan yang akan dilakukan dan dengan Assesment kita juga dapat mengetahui perkembangan pada pasien Soetiyem, Dalam bab ini akan dibahas tentang proses pemecahan masalah yang dihadapi oleh penderita Stroke Hemorage dextra.

Pemecahan masalah pada dasarnya yaitu proses fisioterapi yang didalamnya terdapat pengkajian, menentukan diagnosa atau problematik fisioterapi, tujuan pemberian fisioterapi, pelaksanaan fisioterapi, evaluasi dan dokumentasi.

Pengkajian Pengkajian data merupakan komponen dalam proses fisioterapi, termasuk pada pasien Stroke Hemorage agar dapat memperoleh hasil maksimal dalam mengidentifikasi masalah pasien yang akan ditangani dengan pemecahan fisioterapi.

Anamnesis dibedakan atas anamnesis umum dan anamnesis khusus. Anamnesis umum meliputi data-data pribadi pasien, hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini yaitu, nama : Ny.

Sedangkan anamnesis khusus meliputi: 1 Keluhan Utama Ditanyakan kepada pasien atau keluarganya apa saja yang dirasakan pasien tentang kondisi fisik maupun fungsionalnya atau gejala yang mendorong pasien untuk ke Rumah Sakit atau klinik fisioterapi.

Dalam hal ini keluhan utama pasien adalah kelemahan anggota gerak badan sebelah kanan dan pada anggota sebelah kanan pasien merasakan keju, kemeng dan geringgingan.

Data riwayat penyakit sekarang adalah pada tanggal 27 Desember Page 68 52 tepatnya pukul Lalu pihak keluarga segera membawa pasien ke RS.

Setelah 5 hari di ruang ICU pasien dipindahkan kebangsal Mutazam sampai saat ini. Biasanya pada pasien dengan riwayat Hipertensi sangat beresiko untuk terkena serangan, Stroke apalagi disertai mengidap Diabetes Mellitus Priguna Sidharta, Dalam hal ini pasien pernah menderita Hipertensi, juga disertai penyakit Diabetes Mellitus.

Pasien ini adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 4 orang anak. Dan kesehariannya pasien mempunyai kegiatan bertani untuk mengisi masa tuanya.

Hasil yang didapatkan dari kasus ini tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit seperti pasien.

Page 69 53 6 Anamnesis Sistem Anamnesis sistem meliputi a kepala dan leher : pasien mengeluh pusing, b system kardiovaskuler : pasien tidak meraskan nyeri dada dan jantung berdebar- debar.

Hanya saja pasien sering keluar keringat dingin saat dilakukan latihan, c respirasi : pasien tidak sesak nafas dan batuk-batuk, d gastrointestinalis : pasien tidak merasakan mual dan muntah, pasien mengeluh tidak bisa buang air besar BAB ; e urogenitalis : pasien belum bisa mengontrol buang air kecil dan masih terpasang kateter; f muskuloskeletal : dikeluhkan adanya rasa berat untuk menggerakkan lengan dan tungkai kanannya; g nervorum : pasien merasakan rasa tebal-tebal dan kesemutan khususnya di pagi hari.

Inspeksi terdiri dari dua macam, yaitu inspeksi Statis dan Page 70 54 inspeksi Dinamis. Dari pemeriksaan inspeksi Statis diperoleh informasi : tampak pasien dalam keadaan terbaring di tempat tidur dengan kondisi umum belum stabil, terpasang infus pada pergelangan tangan kiri,masih terpasang kateter, tidak ada decubitus dan pola sinergis.

Inspeksi Dinamis adalah inspeksi yang dilakukan dimana pasien dalm keadaan bergerak. Dari pemeriksaan inspeksi Dinamis diperoleh informasi : saat tidur miring ke sisi sehat maupun ke sisi lesi masih memerlukan bantuan, untuk saat ini terapi masih dilakukan di tempat tidur dan belum boleh diposisikan hafelaying.

Dari hasil palpasi didapatkan informasi : temperatur tubuh sisi kanan sama dengan sisi tubuh kiri, tidak ada nyeri tekan pada ekstrimitas tubuh sisi kanan,tidak ada spasme otot pada ekstrimitas sisi tubuh kanan dan tidak ada gangguan sensabilitas.

Untuk hasil pemeriksaan Auskultasi didapatkan bunyi paru sonor normal. Page 71 55 e Pemeriksaan Gerak Fungsi Dasar a.

Pemeriksaan Gerak Pasif Gerak pasif adalah pemeriksaan gerak yang dilakukan oleh terapis pada penderita, sementara penderita dalam keadaan pasif, jadi yang menggerakan adalah terapis, pasien hanya diam saja.

Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah : Pada kasus ini gerak pasif yang dilakukan terapis pada sendi anggota gerak atas dan anggota gerak bawah pasien sebelah kanan, dapat dilakukan dengan LGS penuh tanpa adanya rasa nyeri.

Pemeriksaan Gerak Aktif Gerak aktif adalah gerakan yang dilakukan oleh pasien sendiri dan diberi aba-aba oleh terapis. Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada otot persendian dan gangguan kapasitas fisik.

Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah : Pada kasus ini gerak aktif yang dilakukan terapis pada sendi anggota gerak atas dan anggota gerak bawah pasien, dapat dilakukan dengan LGS belum bisa penuh tanpa adanya rasa nyeri dan koordinasi kurang baik.

Pemeriksaan Gerak Aktif Melawan Tahanan Gerak aktif melawan tahanan adalah suatu gerakan yang dilakukan pasien sendiri secara aktif sementara terapis memberikan tahanan yang berlawanan arah dari gerakan yang dilakukan oleh pasien.

Tujuan dilakukan pemeriksaan ini adalah provokasi ada tidaknya nyeri dan kekuatan otot. Hasil pemeriksaan ini adalah : pasien belum mampu melawan tahanan yang diberikan terapis.

Page 72 56 f Pemeriksaan Kognitif, Intrapersonal dan Interpersonal Pemeriksaan ini ditekankan pada hal-hal yang mempunyai keterkaitan dengan program layanan fisioterapi.

Kognitif Batasan fungsi kognitif meliputi memori, konsentrasi, orientasi ruang dan waktu, atensi. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan kognitif bahwa pasien belum bisa berkonsentrasi dengan baik, maupun belum bisa berkomunikasi dengan baik maupun mengikuti instruksi yang terapis berikan saat latihan dilaksanakan.

Intrapersonal Intrapersonal dapat dilihat dari kondisi pasien dalam menerima keadaanya dan semangat serta keiinginan pasien dalam melakukan program terapi.

Dari pemeriksaan ini didapatkan hasil : pasien mempunyai motovasi yang tinggi untuk sembuh dan kembali beraktifitas seperti sebelum terjadi serangan stroke.

Interpersonal Interpersonal adalah untuk mengetahui hubungan interaksi dan komunikasi antara pasien denagn terapis atau tim medis lainnya.

Dari pemeriksaan ini diperoleh hasil : pasien sangat kooperatif dan komunikatif dengan terapis serta mampu melakukan perintah dengan baik walaupun harus berfikir lama untuk menjalankan perintah itu.

Page 73 57 3 Pemeriksaan Fungsional dan Lingkungan Aktifitas Pemeriksaan fungsional dan lingkungan aktifitas adalah suatu proses pemeriksaan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas spesifik dan hubungannya dengan rutinitas kehidupan sehari-hari.

Meliputi : a Fungsional dasar, didapatkan hasil : pasien belum mampu tidur miring secara mandiri, pasien belum boleh untuk dilakukan latihan duduk dari posisi tidur dan saat pasien diminta untuk menggerakan AG Dextra pasien menggerakanya dengan susah payah dan tampak masih sangat berat untuk digerakan; b Fungsional aktifitas, didapatkan hasil : pasien belum mampu tidur miring kanan dan kiri secara mandiri dan pasien tidak mampu bangun dari tidur ke duduk secara mandiri; c Lingkungan aktifitas, diperoleh hasil : pasien belum mampu untuk transfer ambulasi dari tidur terlentang ke miring lalu duduk ongkang-ongkang kemudian berdiri secara mandiri dan pasien belum bisa melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

C Saraf Pusat a. AGA kanan : nilai 1 Ada peningkatan tonus otot, ditandai dengan terasanya tahanan minimal catch and release pada akhir ROM pada waktu sendi digerakan fleksi atau ekstensi.

AGB kanan : nilai 1 Ada peningkatan tonus otot, ditandai dengan terasanya tahanan minimal catch and release pada akhir ROM pada waktu sendi digerakan fleksi atau ekstensi.

Page 74 58 b. Pemeriksaan Modified Motor Assesment Scale MMAS No Item yang diukur Kemampuan Nilai 1 Terlentang ke tidur miring pada sisi sehat Miring sendiri tanpa bantuan pasien miring sendiri dengan lengan sehatnya, posisi awal harus terlentang tanpa kaki semi fleksi 1 2 Terlentang ke duduk disamping bed Tidak dapat miring karaena pasien tidak boleh bangun ke duduk 0 3 Keseimbangan duduk Belum dilakukan keseimbangan duduk 0 4 Duduk ke berdiri Pasien belum bis berdiri 0 Page 75 59 d.

Pemeriksaan pola sinergis Pemeriksaan pola sinergis dengan cara inspeksi dan hasil yang didapat adalah belum tampak adanya pola sinergis.

Pemeriksaan Koordinasi Skala Kanan Jenis Tes Skala Kiri 2 Jari ke hidung 4 2 Jari pasien ke jari terapis 4 2 Jari ke jari tangan yang lain 4 2 Menyentuh hidung dan jari tangan bergantian 3 2 Gerak aposisi jari tangan 3 3 Menggenggam 4 3 Pronasi-Supinasi 4 2 Rebound tes 3 3 Tepuk tangan 4 1 Tepuk kaki 2 2 Menunjuk 3 2 Tumit ke lutut 3 2 Tumit ke jari kaki 3 1 Jari kaki menunjuk jari tangan terapis 2 2 Tumit menyentuh bawah lutut 3 Page 76 60 1 Menggambar lingkaran dengan tangan 2 1 Menggambar lingkaran dengan kaki 1 1 Mempertahankan posisi anggota gerak atas 1 1 Mempertahankan posisi anggota gerak bawah 1 g.

Pemeriksaan cairan mukus Pemeriksaan cairan mukus dengan cara Auskultasi dan hasil yang didapat adalah tidak ada penumpukan cairan mukus akibat tirah baring lama.

Diagnosa Fisioterapi Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh fisioterapi diperoleh keterangan mengenai problematik : a.

Impairment 1 Ada spastisitas pada lengan dan tungkai kanan 2 Terjadi gangguan koordinasi dan keseimbangan b.

Functional Limitations Penurunan kemampuan motorik fungsional seperti terlentang ke tidur miring pada sisi sehat, terlentang duduk disamping bed, keseimbangan duduk, duduk ke berdiri , berjalan, fungsi anggota gerak atas dan pergerakan tangan yang lebih terampil.

Page 77 61 c. Disability Pasien masih sulit berkomunikasi dengan terapis dan keluarga karena pasien mengalami gangguan koordinasi dan pasien masih belum bisa beraktifitas sebagai ibu rumah tangga.

Program atau Rencana Fisioterapi 1. Tujuan Fisioterapi Merupakan komponen penting dalam menentukan rencana terapi karena tujuan terapi merupakan sasaran utama yang ingin dicapai dalam penerapan intervensi fisioterapi.

Tujuan fisioterapi terdiri dari 2 macam yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Jangka Pendek 1 Meningkatkan kemampuan koordinasi dan keseimbangan 2 Meningatkan kekuatan otot 3 Mengontrol pola sinergis dan mengontrol spastisitas bila sudah timbul spastisitas 4 Meningkatkan kemampuan motorik fungsional seperti terlentang ke duduk disamping bed, duduk ke berdiri, berjalan dan pergerakan tangan yang lesi.

Jangka Panjang 1 Mencegah terjadinya deformitas 2 Meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional Page 78 62 2. Teknologi Fisioterapi Teknologi yang dipilih oleh terapis adalah terapi latihan.

Terapi latihan yang akan diberikan nanti bertujuan untuk mencegah komplikasi, memelihara mobilitas persendian dan menormalkan tonus postural, menanamkan pola gerak yang benar dan melatih kemampuan transver dan ambulasi.

Pelaksanaan Fisioterapi Terapi dilaksanakan dengan melihat kondisi pasien terlebih dahulu melalui anamnesis dan berbagai macam pemeriksaan yang tealah ada.

Berdasarkan promblematik fisioterapi maka tujuan jangka pendek adalah latihan memperbaiki postur dengan cara menghambat, mengontrol tonus otot spastisitas secara postural serta meningkatkan keseimbangan dan koordinasi.

Dan tujuan jangka panjang adalah untuk meningkatkan kemampuan fungsional agar dalam aktifitas kesehariannya mampu melakukan aktifitas tanpa ketergantungan penuh kepada orang lain atau secara mandiri.

Pemberian latihan pasien stroke akibat trombosit dan emboli, jika tidak ada komplikasi lain dapat dimulai setelah hari setelah serangan dan bilaman terjadi perdarahan subarachnoid dimulai setelah 2 minggu.

Pada trombosis atau emboli yang ada infark miokard tanpa komplikasi yang lain dimulai setelah minggu ke 3 dan apabila tidak terdapat aritmia mulai hari ke 10 Sodik, Dilakukan secara rutin dengan waktu latihan antara 45 menit yang terbagi dalam tiga sesi.

Dan tiap sesi diberikan istirahat 5 menit. Namun apabila pasien terlihat lelah, ada perubahan wajah dan ada peningkatan menonjol tiap latihan pada vital sign, maka dengan segera harus dihentikan.

Page 79 63 Pelaksanaan terapi dengan terapi latihan antara lain : a. Brithing Exercise Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditujukan untuk mencegah penurunan fungsional system respirasi.

Deep breathing exercise bertujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan dan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilisasi sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan Levenson, Pelaksanaannya yaitu posisi pasien half lying dengan kepala berada diatas bantal.

Terapis berada disamping pasien dan memberi aba-aba kepada pasien. Pasien diminta untuk menarik nafas sedalam mungkin melalui hidung dimulai dari akhir ekspirasi kemudian mengeluarkannya secara rileks melalui mulut.

Setiap latihan dapat dilakukan 8 hitungan, 2x pengulangan Gambar 4. Tu pola sinerg 1 Po bahu, abd pergelanga protraksi, fleksi. Kep Po terjadinya dan lenga protraksi panggul ja Pengaturan ujuannya ya gis.

Pengatura osisi tidur t duksi dan e an tangan e semifleksi pala pada p sisi terseb a retraksi sen an diletakka. Bantal j atuh kebelak P n posisi tidu aitu untuk an posisi tidu telentang p eksternal rot ekstensi, jar dan intern osisi netral but diatas ndi bahu da an diatas b uga diletak kang dan tu Posisi Tidur 64 ur mengontrol ur terlentan pada pasien tasi bahu, ri jari abduk nal rotasi se atau lateral kurang m an sendi pan bantal sehin kkan di ba ungkai mem Gambar r Terlentang l timbulnya ng n stroke ak ekstensi sik ksi dan ekst endi pangg l fleksi kesis menguntung nggul, oleh ngga bahu awah sendi mutar keluar 4.

Untuk gul, pada lu si yang seha kan karen karena itu sedikit ter panggul u Soehardi, e, s dan menc protraksi g bawah sup k posisi tun utut sedikit at.

Pada tung i yang seha bantal Soeh stone lumpuh k boleh tert si pada hip d ekstensi pa en harus m n diganjal b gkai sedikit at diantara k hardi, tindih dan dan lutut ter ada hip dan miring bantal semi kedua.

Pen pengulang La terapis me diatas per dari sisi j pasien de secara ber fleksi, eks Posisi tid Mobil Latiha osisi pasien n posisi ter ngulangan gan.

Berikut atihan gerak emegang ta rgelangan p jari kelingk engan mem rsamaan, k stensi pergel dur miring k isasi dini de an pada ang selama dib rapis berada gerakan pa t ini adalah k pasif pada angan pasie pasien dan t king yang l mbuka dan kemudian m langan tang 66 Gambar kesisi yang engan latiha ggota gerak berikan latih a disampin ada saat la beberapa ge a pergelanga en yang lum tangan yang lumpuh kem menutup m menggerakk gan, radial d 4.

Pela u tangan ter mengenggam apis mengg am dan me ngan tangan ulnar devias f h tidur telen dengan sisi hitungan2 selama tera aksanaanya rapis meme m tangan p gerakkan jar embuka jar n pasien k si.

La terapis m satunya m gerak flek han gerak pa lajutkan de g pada per memegang p sien kearah L atihan pasif memegang p memegang p ksi, ekstens asif pada pe engan latih rgelangan pada siku pa h fleksi dan Latihan gerak f pada bah pada perge pada siku se si lengan a 67 Gambar ergelangan t han gerak p tangan pas asien, denga ekstensi ke Gam k pasif pada hu, posisi p elangan tan ebagai stab atas dengan 4.

Posisi pasien tetap tidur terlentang dan terapis berada disamping pasien dekat dengan sisi yang lumpuh.

Latihan dimulai dari kaki, terapis memegang jari jari pasien kemudian secara bersamaan digerakkan kearah fleksi dan ekstensi jari jari kaki Gb.

Peningkatan kemampuan fungsional dengan latihan fungsional 1 Latihan Bridging Latihan aktif bridging dilakukan dengan posisi pasien terlentang dengan lutut ditekuk posisi terapis menyesuaikan posisi pasien pelaksanaannya posisi permulaan tidur, kedua lutut ditekuk kedua lengan lurus di samping tubuh, angkat Page 87 panggul k penekanan 2 Po samping s satu berad dan kanan.

Latihan in Latih erak Rotasi t tidur terlen ien. Satu tan pasien, lalu bar 4. D atihan Gera 71 membantu ni dilakukan Gamb han Bridging trunk ntang dan ke ngan terapis terapis men Dilakukan 8 Gambar 4 ak Rotasi Tr u menarik n dengan pen bar 4.

Pasien diminta miring kesisi sehat dengan cara mengangkat tangan yang lumpuh keatas kemudian dirotasikan kesisi sehat dibantu dengan tangan yang sehat, lutut pasien ditekuk kemudian digulingkan kesisi sehat, kemudian diminta memutar badannya kesisi sehat.

Pada latihan aktivitas miring kesisi sehat pada dasarnya sama dengan miring kesisi sakit cuma posisi miringnya kearah sakit.

Gambar 4. Latihan aktivitas bagun ke duduk Latihan aktivitas fungsional bangun ke duduk dilakukan dengan posisi pasien terlentang keduduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien.

Pelaksanaan :pasien dalam posisi terlentang, kedua lutut ditekuk dan diganjal bantal, kedua lengan lurus ke atas dengan jari — jari tangan dijalin satu sama.

Kemudian setelah itu pasien diminta berguling kesisi yang lumpuh dimana dimulai dengan ayunan lengan rotasi gelang bahu, badan baru diikuti gerak panggul dan tungkai.

Rotasi bahu dan panggul merupakan refleks yang penting untuk mencegah pola spastic Page 89 73 ekstensi. Setelah pasien berguling di sisi yang lumpuh diminta bergerak ke bed sebagai tumpuan berat badan.

Kaki saling disilangkan dan diturunkan kelantai. Saat bangun ke duduk tersebut sambil dibantu terapis. Dengan pegangan pada lengan pasien yang sehat dan kaki yang sakit.

Bantuan terapis tersebut berupa gerakan menarik lengan pasien. Sesudah sampai keposisi duduk, posisi tungkai harus selalu menapak penuh.

Sesudah sampai ke posisi duduk tersebut perlu diperhatikan ekspresi wajah pasien, apakah menjadi pucat, keluar keringat dingin, keluhan rasa mual atau muntah maupaun rasa pusing.

Dicek pula terjadi peningkatan denyut nadi melebihi kali per menit atau turun melebihi 60 kali per menit dan pernapasan menjadi cepat atau lambat, sebaiknya pasien dibaringkan kembali dan diselimuti Lihat gambar 4.

Setelah pasien sampai ke posisi duduk dengan posisi kedua kaki menapak lantai dan kedua lengan diletakkan di sisi tubuh kemudian dilatih keseimbangan dengan pegangan terapis pada kedua bahu pasien.

Pada saat itu pula dilanjutkan latihan keseimbangan dengan pegangan terapi pada bawah leher, sedangkan posisi kedua tangan pasien diletakkan diatas pangkuannya.

Kemudian pasien digoyangkan ke kanan kiri dan depan belakang untuk beberapa detik. Apabila pasien belum bisa mempertahankan keseimbangannya selama 30 detik maka latihan tersebut perlu ditingkatkan lagi Lihat gambar 4.

Qu Latihan akt atihan dimul terapis berd terapis sed memberikan Kemudian te pantat Baik Baik Dubia ad ma Dubia ad ma kedua kaki en.

Breathing exercise 3. Mobilitas dini dengan latihan pasif 4. Latihan bridging 5. Latihan gerak rotasi trunk 6.

Positioning 7. Pelaksanaan terapi ke 2 sama pada terapi 1 hanya saja untuk latihan geraknya dari pasif kemudian dilanjutkan aktif 3.

Pelaksanaan terapi ke 3 sama dengan terapi ke 2 3. Pelaksanaan terapi ke 4 sama dengan terapi ke 3 3. Sama dengan terapi ke 4 hanya saja ditambah dengan latihan aktivitas fungsional dasar yaitu dari posisi miring pada sisi yang lumpuh.

Pelaksanaanya : dar posisi miring ke sisi yang sakit kemudian pasien diberikan instruksi untuk mendorong tungkai yang lumpuh dengan tungkai yang sehat ke tepi bed, dan dalam waktu bersamaan lengan yang sehat pasien diusahakan memberikan penekanan ke bed untuk membantu mempermudah mengangkat tubuhnya.

Terapis membantu dengan memberikan fiksasi pada bahu dan panggul pasien, dengan hitungan satu, dua, tiga secara bersamaan pasien dan terapis berusaha mengarahkan pasien pada posisi duduk.

Setelah duduk kemudian lengan pasien digunakan untuk menyangga tubuhnya sendiri, namun terapis tetap mengamati pasien jangan sampai jatuh, saat itu juga dapat diberikan aproksimasi pada bahu pasien.

Page 94 78 3. Latihan keseimbangan duduk Pelaksanaanya : Posisi pasien duduk dengan kedua kaki menyentuh dilantai dan kedua tangan lurus menyangga disamping, sedangkan teapis berada dibelakang pasien.

Terapis mendorong pasien kearah depan, belakang, kanan-kiri dengan dorongan ringan, kemudian pasien diminta mempertahankan posisinya agar tidak jatuh.

Pasien mampu duduk selama 15 menit 5. Positioning Terapi hari ke 6 tgl 26 Januari 1. Pelaksanaan terapi sama dengan terapi 5 hanya saja ditambah latihan aktivitas duduk ke berdiri 3.

Latihan aktivitas duduk ke berdiri 5. Positioning Page 95 79 g. Edukasi Untuk menunjang keberhasilan program terapi yang telah diberikan maka perlu diberikan penjelasan dan saran kepada pasien dan keluarganya agar mengerti dan memahami permasalahan yang dihadapi pasien.

Edukasi yang dapat diberikan diantaranya : 1 pasien diminta untuk melakukan latihan sendiri bersama keluarga dengan cara melakukan gerakan pada anggota badan yang lumpuh dengan bantuan anggota badan yang sehat; 2 pasien diminta untuk tetap melibatkan anggota gerak yang lumpuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari; 3 menaruh barang-barang atau peralatan pada sebelah sisi yang lesi; 4 pasien diminta untuk tidak terlalu banyak berfikir yang dapat memacu kenaikan tekanan darah; 5 disarankan pada keluarga untuk sesering mugkin utuk melatih atau mengajak pasien berjalan dengan menggunakan tripot; 6 menyarankan kepada keluarga untuk terus memberikan semangat dan motivasi dan mengawasi setiap gerakan yang dilakukan pasien sewaktu dirumah.

Evaluasi Hasil Terapi Evaluasi dilakukan untuk mengetahui atau membandingkan seberapa jauh tingkat keberhasilan dari terapi yang diberikan.

Evaluasi pada pasien stroke stadium recovery meliputi evaluasi sesaat dan evaluasi periodik. Pada evaluasi sesaat, terapis memeriksa dan mengevaluasi vital sign, yang dilakukan pada saat sebelum diberikan terapi, dan setelah terapi, terapis juga tetap memantau vital sign selama terapi dilakukan untuk memutuskan melanjutkan atau menghentikan terapi yang diberikan.

Pada evaluasi bertahap, terapis melakukan evaluasi pada hari Page 96 80 pertama melakukan pemeriksaan T0 sampai pada akhir melakukan terapi yaitu pada hari ke enam T6.

Pada evaluasi periodik terapis melakukan beberapa pemeriksaan sebagai evaluasi terhadap program yang telah diberikan. Evaluasi bertahap meliputi tonus otot dengan skala Asworth, evaluasi kemampuan fungsional dengan MMAS, evaluasi kekuatan otot dengan MMT,evaluasi pola sinergis dengan inspeksi dan evaluasi cairan mukus dengan auskultasi.

Suyatmi umur 57 tahun dengan hemiparese stadium recovery. Setelah mendapat penanganan fisioterapi selama 6 kali, diperoleh hasil : peningkatan kekuatan otot dan tonus otot, terjadi peningkatan kemampuan fungsional namun pasien masih belum mampu untuk duduk maupun berdiri secara mandiri.

Suyatmi, usia 57 tahun dengan diagnosis medis, hemiparese dextra et causa Stroke Hemoragik mengakibatkan masalah utama yaitu potensial terjadi komplikasi tirah baring lama pada sistem pernafasan, potensial terjadi pola sinergis, hipotonus pada anggota gerak kanan, dan penurunan kemampuan fungsional.

Setelah dilakukan intervensi fisioterapi sebanyak 6 kali dengan menggunakan modalitas terapi latihan, didapatkan perkembangan yang positif.

Perkembangan tersebut dapat dilihat dari evaluasi petama sampai ke enam yang diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Tonus otot Hasil evaluasi tonus otot dengan skala asworth dapat dilihat pada tabel 5.

Penurunan spastisitas dilakukan dengan metode gerak pasif, latihan gerak pasif Page 98 82 untuk menurunkan tonus yang hanya berlangsung sementara dan juga diharapkan dapat mempengaruhi control tonus di saraf pusat.

Dengan melaksanakan ini maka otot-otot yang lumpuh dicegah menjadi kecil dan persendian dicegah jangan sampai kontraktur.

Dalam mengerjakan fisioterapi ini, jangan terburu-buru, terlalu keras atau terlalu memaksa. Gerakan bagian lengan dan tungkai tanpa menyakiti pasien.

Gerakan pasif membantu mengurangi spastisitas untuk meninhibisi stretch reflek yang terjadi, dimana gerakan yang diberikan harus rhitmis dan pelan wale, Selain dengan menggunakan metode gerak pasif, menurunkan spastisitas dengan posisioning dalam inhibisi pola abnormal sehingga posisi pasien harus berada dalam lingkup pola.

Pada pemberian posisioning ini terapis dibantu oleh pihak keluarga dalam hal perubahan posisi setiap 2 jam sekali yang sebelumnya terapis memberikan contoh terlebih dahulu.

Dengan cara perubahan posisi berlawanan denagn pola spastisitas dalam rangka untuk mencegah pola sinergis Mulyatsih, Penumpukan cairan mukus Hasil evaluasi penumpukan cairan mukus dengan cara auskultasi.

Dari pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada penumpukan cairan mukus, Ini karena pengaruh latihan breathing exercise berupa deep breathing exercise.

Deep breathing exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yang panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi bertujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap Page 99 83 mengembang, meningkatkan oksigen, membantu meningkatkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak dan meningkakan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan Levenson, Tidak timbulnya pola sinergis karena adanya pemberian positioning pada posisi terlentang, miring kesisi sehat dan miring kesisi lumpuh.

Waktu terjadi stroke onset apabila terjadi paralisis total, arefleksia pada anggota gerak, maka anggota gerak yang terkena akan flaksid selama 48 jam, dari sini akan berkembang kearah spastisitas dan akhirnya ke tonus normal, sedangkan kekuatan otot akan kembali melalui pola sinergis menuju gerakan itu sendiri garrison, Maka pengaruh positioning yang dilakukan pada posisi tidur terlentang, miring ke sisi sehat dan miring ke sisi lumpuh dapat mencegah pola sinergis Soeparman, Page 84 4.

Dalam beberapa waktu kemudian berlanjut ke perbaikan fungsi aksonal atau aktivasi sinaps yang tidak efektif.

Pada penderita stroke, perbaikan fungsi neuron berlangsung kurang lebih dalam waktu satu tahun. Prediksi perbaikan ini sangat tergantung dari luasanya defisit neurology awal, perkembangan lesi, ukuran dan topis kelainan di otak, serta keadaan sebelumnya.

Keadaan ini juga dipengaruhi oleh usia nutrisi dan tindakan terapi fisioterapi yang juga merupakan factor yang menentukan dalam proses perbaikan.

Bahwasanya kemampuan fungsional mengalami peningkatan karena diotak adanya perbaikan lesi primer oleh membaiknya system vaskularisasi. Page 86 Table 5.

Peningkatan kekuatan otot dilakukan dengan latihan gerak aktif, yaitu gerakan aktif yang dilakukan sendiri oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya.

Dengan terapi latihan secara aktif dapat meningkatkan kekuatan otot karena dapat menstimulasi motor unit sehingga semakin banyak motor unit yang terlibat maka akan terjadi peningkatan kekuatan otot Kisner, Kesimpulan Pemberian latihan pada pasien stroke stadium recovery ini sangat bermanfaat karena dapat membantu dalam proses penyembuhan sehingga pemberian latihan harus diberikan sedini mungkin agar tujuan dapat tercapai lebih optimal.

Penanganan fisioterapi yang diberikan yaitu deep breathing exercise, positioning, serta mobilisasi dini. Pada pasien ini, selain mendapatkan terapi latihan dari fisioterapi juga mendapatkan terapi medika mentosa dari dokter.

Sehingga tidak disimpulkan bahwa terapi latihan yang diberikan oleh fisioterapi aja yang mempunyai andil. Selain itu dari diri pasien sendiri juga ikut menentukan keberhasilan terapi latihan ini, dimana motivasi untuk berlatih juga ikut berperan.

Sehingga meningkatkan voluntary movement, selain itu juga dapat mencegah terjadinya kontraktur dan decubitus.

Setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali didapatkan penurunan spastisitas dan tidak terjadi kontraktur dan decubitus, b latihan gerak aktif pada pola gerak fungsional akan memperbaiki gerak dan fungsi, setelah dilakukan terap sebanyak 6 kali didapatkan perubahan Page 88 fungsional pasien dapat duduk kemudian berdiri walaupun dengan bantuan terapis, c edukasi yang diberikan kepada pasien untuk sering menggerakan anggota gerak yang sakit memberikan hasil peningkatan kekuatan otot, d dengan terapi latihan berupa breathing exercise bermanfaat untuk menjaga mobilitas sangkar thorak, sehingga kapasitas paru juga tetap terjaga selain itu juga breathing exercise berguna untuk mencegah penumpukan cairan mukus akibat tirah baring lama.

Ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan terapi yang diberikan, antara lain 1 derajat kerusakan area yang terkena, makin besar derajat area yang terkena maka prognosis kesembuhannya juga cukup lama, 2 lokasi atau area yang terkena, akan menyebabkan gangguan neurologis yang berbedassuai fungsinya, 3 usia penderita, makin muda usianya prognosis kesembuhan semakin tinggi karena neuron-neuron masih bekerja dengan baik, 4 pemberian terapi awal dan intensitas latihan rutin akan membanu terbentuknya lintasn penghubung baru dan fungsi yang lebih aktif dari neuron-neuron yang semula pasif akan memacu perbaikan-perbaikan fungsional di otak dengan latihan pencegahan disuded athropy sehingga terjadi keselarasan antara perbaikan di tingkat pusat dan terpeliharanya kondisi otot-otot penggerak Junaidi, Page 89 B.

SARAN Dalam menangani permasalahan yang cukup komplek pada pasien pasca stroke stadium recovery ini, sangat diperlukan kerjasama dari berbagai pihak tim medis, keluarga pasien serta pasien itu sendiri agar dapat tercapai hasil yang optimal dalam proses penyembuhannya.

Dalam hal ini pasien disarankan untuk tetap semangat melakukan latihan secara rutin seperti yang diajarkan terapis serta menghindari faktor-faktor resiko agar tidak terjadi serangan stroke berulang seperti DM, hipertensi, kolestrol.

Kepada keluarga pasien disarankan untuk tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien. Peran fisioterapi pada pasien pasca stroke sangat penting untuk mencegah terjadinya penurunan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional sehingga dalam memberikan terapi latihan perlu diberikan secara efektif dan efisien baik intensitas maupun frekuensi pemberian terapi.

Untuk itu sebagai fisioterapis disarankan memiliki ilmu dan pengetahuan yang memadai, memberikan pelayanan dengan sebaik mungkin dan meningkatkan kerjasama dengan tenaga medis yang lain, keluarga pasien maupun pasien itu sendiri serta selalu memberikan motivasi kepada pasien.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka diharapkan nantinya dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi penyembuhan penderita stroke haemoragik.

Duus, Peter. Widjaya, Hipokrates, Jakarta. A Davis Company. Levenson, C. R, ; Breathing Exercise, in Zadai, C. Snell, Richard, ; Neuroanatomi Klinik, edisi kedua.

Soehardi, ; Fisioterapi pada Stroke dengan Pendekatan M. Suyono, A. Select a country from below to get a list of BBW's, or click any of the profiles on the left.

Now Selling! Look for our contemporary designs, net-zero energy ready homes and innovative products including i-cube construction, piano finish cabinetry, dual sliding windows, cool contemporary doors with magnetic door stops and more.

Look for duplexes and single-family detached homes that feature contemporary designs, energy efficient technology and innovative products including panelized construction, piano finish cabinetry, dual sliding windows, cool contemporary doors with magnetic door stops and more.

Momiji Grove is an upcoming community of 39 homes located in beautiful Maple Valley. Luxury Townhomes are coming soon to downtown Redmond!

Conveniently located in downtown Redmond with a Walk Score of 85! The Ichijo Difference.

2 Thoughts on “Gio_emilyouhots”

Hinterlasse eine Antwort

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind markiert *